Desa Kopeng

Kecamatan Getasan
Kabupaten Semarang - Jawa Tengah

Artikel

Di Tengah Arus Modernisasi, Saparan Menjadi Cara Warga Dusun Sleker Menjaga Identitas Desa

Administrator

10 Agustus 2026

4 Kali Dibaca

Udara pagi di lereng Gunung Merbabu masih terasa dingin ketika satu per satu warga mulai memenuhi jalan utama Dusun Sleker, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Embun yang belum sepenuhnya menghilang berpadu dengan suara gamelan yang mulai ditabuh pelan, memecah sunyi pagi. Di sepanjang jalan, perempuan berkebaya berjalan sambil membawa tumpeng, anak-anak mengenakan pakaian adat dengan wajah penuh antusias, sementara para lelaki memikul gunungan berisi hasil bumi yang tersusun rapi. Di sisi kanan jalan, anak-anak berdiri di atas pagar bambu sambil melambaikan tangan kepada rombongan kirab. Sesekali mereka berlari mengejar gunungan hasil bumi yang diarak perlahan.

Aroma sayur segar bercampur tanah basah selepas embun pagi memenuhi udara Kopeng. Di antara keramaian itu, seorang pria berusia 66 tahun berdiri memperhatikan setiap barisan yang mulai bergerak. Sesekali ia tersenyum ketika melihat anak-anak kecil berlarian mengikuti iring-iringan kirab budaya. Baginya, pemandangan pagi itu bukan sekadar perayaan tahunan. Ada perjalanan panjang yang ia saksikan selama puluhan tahun, bahkan ikut ia bentuk dengan tangannya sendiri. Pria itu adalah Pak Duchri, tokoh adat Dusun Sleker.

Dua puluh tahun lalu, ketika menjabat sebagai Kepala Dusun, Pak Duchri bersama para sesepuh dan tokoh masyarakat duduk bermusyawarah. Mereka memiliki satu kegelisahan yang sama, bagaimana menjaga tradisi agar tidak berhenti pada generasi mereka. Kala itu, Saparan hanya berupa kenduri sederhana dan doa bersama. Masyarakat khawatir jika tradisi hanya dijalankan seperti biasa, lambat laun anak muda akan semakin jauh dari akar budayanya. Dari musyawarah itulah lahir sebuah gagasan untuk menghadirkan kirab budaya sebagai wajah baru Saparan tanpa menghilangkan makna yang diwariskan leluhur. "Tradisi kirab mulai ada sejak tahun 2005. Sebelumnya tradisi di sumber air sudah ada, lalu kami bermusyawarah dengan para sesepuh dan tokoh masyarakat. Alhamdulillah semua setuju, akhirnya kirab budaya dilaksanakan sampai sekarang," kenang Pak Duchri. Namun, jauh sebelum kirab budaya dikenal masyarakat, Saparan telah hidup di Dusun Sleker sejak ratusan tahun silam.

Pak Duchri menceritakan bahwa menurut kisah para sesepuh, dahulu dusun ini pernah mengalami masa sulit. Saat itu banyak warga meninggal akibat wabah yang melanda kampung. Dalam keadaan tersebut, masyarakat berkumpul mengadakan kenduri dan memanjatkan doa memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kebetulan doa bersama itu dilaksanakan pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Sejak saat itulah masyarakat menyebutnya sebagai Saparan. "Dulu ada banyak warga yang meninggal. Para sesepuh kemudian mengadakan kenduri dan doa bersama

agar diberi keselamatan. Karena dilakukan pada bulan Safar, akhirnya sampai sekarang disebut Saparan," tutur Pak Duchri. Seiring berjalannya waktu, makna Saparan tidak lagi sekedar mengenang masa lalu. Tradisi ini berkembang menjadi ungkapan syukur atas kehidupan yang terus mengalir melalui alam.

Bagi masyarakat Dusun Sleker, sumber kehidupan itu adalah air.

Di kaki perbukitan Kopeng terdapat Umbul Songo, kawasan yang menyimpan sembilan mata air. Bagi warga, tempat itu bukan hanya sumber air bersih, melainkan denyut kehidupan yang menghidupi sawah, ladang, ternak, hingga kebutuhan sehari-hari. Air yang mengalir dari Umbul Songo telah menemani perjalanan hidup masyarakat lintas generasi. Karena itulah, puncak Saparan bukan berada pada kemeriahan kirab budaya, melainkan ketika seluruh warga berkumpul di Umbul Songo untuk berdoa bersama. "Yang menghidupi masyarakat adalah air dari sumber itu," ujar Pak Duchri singkat. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang begitu dalam.

Bagi masyarakat Dusun Sleker, menjaga mata air berarti menjaga kehidupan. Menghormati alam bukan sekadar ajaran yang diucapkan, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata yang diwariskan setiap tahun lewat Saparan. Nilai tersebut juga diamini oleh Sekretaris Desa Kopeng, Pak Hasyim. Menurutnya, Saparan merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas segala anugerah yang diberikan Tuhan melalui alam. "Tradisi Saparan adalah tradisi rasa syukur atas apa yang telah diberikan alam dan Tuhan kepada masyarakat Dusun Sleker," jelas Hasim. Ia menjelaskan bahwa limpahan hasil bumi, sumber mata air, dan berbagai potensi alam yang dimiliki

Dusun Sleker menjadi alasan mengapa tradisi tersebut terus dipertahankan hingga kini. Saparan bukan hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga pengingat bahwa kesejahteraan masyarakat lahir dari hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Baginya, rasa syukur itu tidak berhenti pada doa dan seremoni. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sumber mata air, lahan pertanian, dan semangat gotong royong yang diwariskan para leluhur. "Saparan bukan hanya milik para sesepuh. Tradisi ini milik seluruh masyarakat, sehingga semua punya tanggung jawab untuk ikut menjaganya," ujar Hasim. Kesadaran itulah yang kemudian diwujudkan dalam setiap rangkaian Saparan.

Tradisi tidak dimulai ketika kirab budaya berlangsung. Sehari sebelumnya, warga bergotong royong membersihkan makam leluhur, jalur kirab, hingga kawasan Umbul Songo. Malam harinya, para sesepuh berkumpul memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus rasa syukur kepada Tuhan. Barulah keesokan paginya masyarakat berjalan bersama dalam kirab budaya menuju Umbul Songo, membawa gunungan hasil bumi, tumpeng, dan harapan agar keberkahan tetap menyertai kehidupan mereka.

Menariknya, setiap RT di Dusun Sleker memiliki kebebasan menampilkan identitasnya masing-masing. Ada yang memilih mengenakan busana adat Jawa, menampilkan kesenian Gedruk, hingga mengangkat keberagaman budaya Nusantara. Di balik warna-warni kostum itu, tersimpan semangat yang sama: menjaga tradisi agar tetap hidup. Menurut Pak Hasim, keterlibatan seluruh RT menjadi kekuatan utama Saparan. Setiap kelompok masyarakat diberi ruang untuk menampilkan kreativitasnya tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur. Dengan begitu, tradisi tidak hanya dipertontonkan, tetapi benar-benar dirasakan sebagai milik bersama. "Kalau tidak ditunjang dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial, akan sulit mengajak generasi muda ikut melestarikan kebudayaan," ungkapnya.

Bagi orang luar, kirab budaya mungkin hanya menjadi tontonan yang memikat mata. Namun bagi masyarakat Dusun Sleker, kirab adalah cara mereka bercerita kepada anak-anak tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan mengapa sumber air harus dijaga. Pak Duchri mengaku, alasan terbesar dirinya menggagas kirab budaya bukan semata-mata menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Ia ingin anak-anak muda mengenal sejarah desanya melalui pengalaman, bukan hanya lewat cerita. "Kami bekerja sama dengan para pemuda supaya mereka tahu bagaimana awal mula tradisi ini. Saya berharap nanti ada penerusnya yang melanjutkan," ujarnya.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Di tengah derasnya arus modernisasi, ketika budaya populer begitu mudah menjangkau generasi muda melalui layar gawai, menjaga tradisi menjadi tantangan tersendiri. Pak Duchri percaya bahwa budaya hanya akan bertahan jika generasi berikutnya ikut merasakan, mengalami, dan mencintainya secara langsung.

Di Dusun Sleker, tradisi tidak diwariskan melalui ruang kelas atau lembar-lembar sejarah. Ia tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama. Anak-anak ikut berjalan dalam kirab budaya, para pemuda bergotong royong menyiapkan gunungan dan tumpeng, sementara para sesepuh mengajarkan makna setiap doa yang dipanjatkan di Umbul Songo. Dari sanalah generasi demi generasi belajar bahwa budaya bukan sekadar cerita tentang masa lalu, melainkan pengalaman yang harus dijalani. Barangkali suatu hari nanti Pak Duchri tak lagi berdiri menyambut rombongan kirab. Namun selama masih ada anak-anak yang menapaki jalan Dusun Sleker dengan penuh rasa ingin tahu, pemuda yang bersedia merawat Umbul Songo, dan warga yang terus memanjatkan syukur atas air yang menghidupi sawah serta ladang mereka, Saparan akan tetap menemukan jalannya. Sebab yang diwariskan masyarakat Dusun Sleker bukan semata sebuah tradisi. Yang mereka wariskan adalah ingatan bahwa kehidupan selalu bermula dari rasa syukur, dari kebersamaan, dan dari mata air yang terus mengalir menghidupi desa mereka.

Di tengah arus modernisasi, ingatan kolektif itulah yang menjadi kekuatan masyarakat Dusun Sleker untuk menjaga identitasnya. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 11, khususnya Target 11.4, yang menekankan pentingnya melindungi dan melestarikan warisan budaya. Bagi warga Dusun Sleker, pelestarian budaya tidak berhenti pada penyelenggaraan sebuah upacara adat, tetapi hidup melalui keterlibatan masyarakat, penghormatan terhadap alam, dan kesediaan setiap generasi untuk meneruskan jejak para leluhurnya.

Oleh: Avivah Himawati Perwita Handayani

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail

Komentar

Captha

Komentar Facebook

Aparatur Desa

Pj. Kepala Desa

REBO SARWOTO

Sekretaris

NUR HASIM

Kasi Kesra

HARUN PURWANTO

Kasi Pemerintahan

LUKAS SUGIONO

Kasi Umum Perencanaan

IKA SEPTIANI

Kasi Pelayanan

MARO'ON

Kadus Cuntel

JOKO SUSILO

Kadus Kopeng

SIGIT ASMORO

Kadus Plalar

WAHONO

Kadus Sidomukti

DEWANTORO

Kadus Blancir

HARMAN SARBINI

Kadus Tayeman

YUSUF RAHARJO

Kadus Dukuh

DARMIATI

Kadus Kasiran

RESTU KISAWA JATI

Staff Teknis

GRESELLA PUTRI ERIKA

Staff Teknis

AZIZ PURNAMA

TIM IT

Mr. AP

TIM IT

Mr. DW

Bendahara

TRIYONO

Staff Teknis

NEZTY NOVIANA P

Staff Teknis

ISNA MASNIA A

Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri

Desa Kopeng

Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, 33

KEHADIRAN

Hari Mulai Selesai
Senin 08:00:00 15:00:00
Selasa 08:00:00 15:00:00
Rabu 08:00:00 15:00:00
Kamis 08:00:00 15:00:00
Jumat 08:00:00 15:00:00
Sabtu Libur
Minggu Libur

Agenda

Belum ada agenda terdata

Komentar

Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini:75
Kemarin:133
Total:111,132
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:216.73.217.73
Browser:Mozilla 5.0

Transparansi Anggaran

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan

Lokasi Kantor Desa

Latitude:-7.399940698552377
Longitude:110.41977524757387

Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang - Jawa Tengah

Buka Peta

Wilayah Desa